Socialism and Communism: More to Marx (Review)

Monday, May 14th, 2012

Di bawah ini merupakan sebuah tugas review mata kuliah Pengantar Ilmu Politik terkait Kaum Sosialis dan Kaum Komunis yang Dijabarkan oleh Marx. Maaf karena lupa mencantumkan buku yang di-review. Semoga bermanfaat.

Sosialisme muncul pada akhir abad 18 dan awal abad 19. Para sosialis percaya bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, di mana seharusnya tidak ada persaing-an di antara mereka. Konsep sosialisme dikenal sebagai pendistribusian kekayaan dan kekuasaan yang merata di seluruh masyarakat. Sosialis menekankan seharusnya seluruh manusia yang berpartisipasi dalam memproduksi suatu barang berhak menerima bagian di dalamnya. Sosialisme menyarankan seharusnya pabrik yang mem-produksi besar barang haruslah milik publik, misal pertambangan.

Beberapa sosialis mendukung akan konsep sentralisasi, karena konsep ini negara diminta untuk bertanggungjawab untuk merencanakan, mengoordinasikan, dan menge-lola ekonomi untuk seluruh masyarakat. Namun karena birokrasi yang lamban, sosialis yang lain berpendapat bahwa desentralisasi merupakan konsep yang lebih cocok karena dapat mengontrol kelompok-kelompok di bidang lokal, dan masyarakat dapat merasakan efek langsung dari penggunaan social property. Walau memiliki konsep yang berbeda, sosialisme tetap menentang akan teori kapitalisme.

Konsep kebebasan dari sosialisme adalah di mana seseorang bebas mengejar tujuan dan aspirasi selama tidak mengganggu orang lain. Tak masuk akal untuk berbicara tentang seseorang atau kelompok tertentu bebas menentukan keinginannya sedang kelas yang lain tidak. Pada The Manifesto of The Communist Party, Karl Marx dan Frederich Engels menyatakan kondisi perkembangan (konsep) kebebasan adalah perkembangan kebebasan secara menyeluruh.

Mungkin sosialisme sudah dikenal sejak zaman Plato, namun Karl Marx adalah nama pertama yang terlintas—dengan varian komunisnya. Pada zaman Plato ada keyakinan bahwa orang Kristen menganjurkan kepemilikan komunal untuk penangkal dosa mereka. Pasca perang sipil di Inggris (1640-an), para Digger, mengklaim Tuhan menciptakan Bumi sebagai milik semua orang, dan dilarang adanya kepemilikan barang pribadi dan harus dihapuskan, begitu juga pada tulisan Gerrard Winstaley.

Ketika Revolusi Industri dimulai, dimulai pula sistem kapitalisme. Kapitalisme dikritik keras, termasuk oleh novelis dan penyair William Blake dan Charles Dickens. Salah satu yang mencoba menerapkan sosialisme adalah aristokrat Perancis bernama Saint-Simon. Ia berpendapat bahwa sejarah manusia mengalami tahap-tahap tertentu, sampai pada tahap di mana tercipta kelas baru seperti insinyur, ilmuwan, dan lainnya yang menjadi makin penting, yang mana menciptakan masyarakat industri (kaum kapitalis). Ia juga berpendapat kapitalisme menyebabkan ketimpangan antara pemilik modal dan buruh sehingga mendorong para ahli untuk menciptakan konsep yang lebih baik dari kapitalisme. Muridnya, Auguste Comte yang menganut positivisme mene-kankan akan perencanaan ilmiah. Simon dan Comte lebih cenderung menyukai konsep sentralisasi, di mana ketentuan dicanangkan oleh para ahli.

Sosialis lain, Charles Fourier dan Robert Owen, mencoba menerapkan sistem tersebut, namun dengan skala yang lebih kecil dan bukan oleh ketentuan para ilmuwan, melainkan masyarakat itu sendiri. Muncullah konsep desentralisasi.

Fourier berpendapat, pada dasarnya manusia tidak akan pernah puas jika bersaing. Visinya adalah menciptakan masyarakat yang segala keinginannya terpenuhi (terpuaskan), di mana tiap pekerjaan sesuai dengan bakat dan minat orang tersebut. Hal ini dapat dilihat dari teori ”phalanstery”. Karena tiap orang bekerja dengan bebas, aparatur hukum seperti pengadilan atau polisi tidak diperlukan lagi, dengan asumsi masyarakat sosialis produktif, makmur, dan bebas.

Sedangkan Owen, ia melihat kapitalisme bukan hanya ada pada masyarakat industri, tapi juga pada bidang pendidikan. Ia mendirikan pabrik di New Lanark, Skotlandia (1800) dengan model standar hari yang aman, dan anak-anak tak diperke-nankan bekerja. Ia mendirikan New Harmony dengan maksud mendirikan masyarakat sosialis, namun gagal.

Karl Marx (1818) memiliki banyak penelitian yang belum terpublikasikan sebe-lumnya. Ia banyak dipengaruhi oleh falsafah Hegel. Hegel melihat bahwa manusia ada untuk mencari kebebasan, yang perjuangannya kian lama kian matang. Hubungan antara majikan dan buruh mengalami ketimpangan. Hegel mengisahkan tentang dialek-tika operasional yang memungkinkan kebebasan dapat menembus batas lembaga-lembaga yang tak terkalahkan. Walau Marx memodifikasi beberapa falsafah Hegel, dialektika pentingnya tetap sama.

Seperti Hegel, Marx setuju akan hal perjuangan manusia (terhadap dunia yang bermusuhan). Pada Communist Manifesto, Marx dan Engels menuliskan bahwa sejarah dari semua masyarakat yang ada sekarang adalah sejarah perjuangan kelas. Selama masyarakat dibagi dalam kelas berbeda, konflik kelas tak bisa dihindari. Seperti yang dijabarkan sebelumnya, Marx menganggap kapitalisme adalah sebuah sistem yang akan hanya melahirkan satu kelas dominasi dan kelas yang didominasi.

Pada negara modern pun kapitalisme dapat terjadi jika para elitnya terlalu men-dominasi terhadap keinginan rakyat. Hal itu dipengaruhi faktor bahwa masyarakat dibatasi oleh struktur ideologis di mana ide, cita-cita, dan keyakinan melegitimasi dan membenarkan pengaturan dan lembaga-lembaga yang ada.

Kelas penguasa, entah itu dari segi politik, ekonomi atau apa pun cenderung akan mempertahankan kekuasaannya. Atau seperti yang dikatakan Aristoteles bahwa ada beberapa orang yang memang ditakdirkan untuk menjadi budak. Marx menggam-barkan bahwa pengaruh agama juga ikut menumpulkan pandangan tentang kebebasan pada kapitalisme modern, di mana terdapat doktrin Tuhan mengasihani hamba-Nya yang sabar dan hidup dalam kemiskinan. Para penguasa pun mengartikan “kebebasan” sebagai kebebasan untuk bersaing. Pandangan ini pun bagi Marx menumpulkan penge-tahuan di mana mereka menganggap bahwa konsep sosialisme dan komunisme tidak penting lagi. Marx tak memungkiri bahwa kapitalisme mendorong sejarah revolusioner seperti mempercepat kematian foedalisme dan membuka rute perdagangan juga mene-mukan dunia baru, menunjukkan aktivitas manusia, membuat inovasi dan perubahan yang adalah progres ke arah kebaikan. Tapi jika mengarah ke arah kebaikan mengapa Marx mencetuskan harus menggulingkan kapitalisme?

Pertama, kapitalisme sudah ketinggalan zaman. Tak dipungkiri kapitalisme menggantikan foedalisme, dan sekarang kapitalisme seharusnya digantikan oleh komunisme. Kedua, kapitalisme menciptakan aliensi atau keterasingan dari pekerjaan mereka masing-masing. Di sini bukan hanya kaum pekerja yang teralienasi, tetapi juga kaum borjuis. Ketiga, Marx berpendapat bahwa kapitalisme itu self-subverting dalam arti pengoperasiannya kaku. Marx tidak mengkritik kapitalis atas dasar moral. Kritik-nya terhadap kapitalis lebih kepada terbatasnya perilaku semua orang, termasuk kapitalis itu sendiri karena mereka berlandas akan logika sistem.

Marx berpendapat, kapitalisme telah menciptakan kondisi dan mempunyai ke-kuatan yang nantinya akan menghancurkan dirinya sendiri. Kapitalisme telah membuat “penggali kubur”-nya sendiri dengan membuat kelas proletariat, dan ironisnya kaum borjuis itu sendiri yang bertanggungjawab akan kejatuhan mereka sendiri karenanya mereka akan bekerja sama dalam membuat sebuah komuditas, dan pada akhirnya mereka sendiri yang menggulingkan kapitalisme dan akhirnya mengarah pada masya-rakat komunis tanpa kelas.

Konsep kelas ploretariat menurut Marx adalah kelas universal, karena dalam melayani kepentingan, ia melayani kepentingan seluruh manusia. Hal ini demi kepen-tingan pekerja yang diliputi kemiskinan. Marx meramalkan revolusi proletar akan di-mulai di negara-negara kapitalis yang maju.

Tahap urutan revolusioner dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Economic crises. Hal ini akan terjadi dikarenakan adanya anarki dalam produksi yang menjadi ciri khas kapitalisme. Semakin matang ke arah kapitalisme, makin parah krisis ekonomi yang terjadi.
  • Immeseration of the Proletariat. Proses di mana kaum ploretariat mengalami kemiskinan, tidak dapat memenuhi kebutuhannya, dengan kata lain kelas ploreta-riat menggunakan opsi mengemis atau mencuri karena kehilangan pekerjaannya.
  • Revolutionary Class Consciousness. Mereka sadar bahwa kesalahan bukan pada diri mereka, namun sistemnya.
  • Seizure of State Power. Krisis ekonomi yang terjadi mengakibatkan campur tangan politik. Kekuatan revolusioner menjadi lebih militan dari kelas penguasa.
  • The Dictatorship of the Proletariat. Kelas proletariat mendirikan revolutionary dictatorship of the proletariat. Mereka menjadi diktator dengan menjadi kelas penguasa baru.
  • The Withering Away of the State. Negara akan “lenyap” ketika borjuis kalah dan kelas buruh yang berkuasa juga “lenyap secara sendiri” ketika hal ini terjadi sehingga tak ada kelas.
  • Communism. Di sini masyarakat sangat terbuka dan demokratis—seluruh warga berperan aktif dalam pemerintahan. Pelayanan publik sangat merata, dan masya-rakat bebas mengembangkan kepribadian mereka karena tak ada lagi pembatasan kelas. Dan pada akhirnya, Marx menelurkan sebuah ilmu atau paham yang dikenal dengan Marxisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: